Cyber Apitaik

Hari

Oleh : MARINA FEBRI YOLA

Aneh! Dalam sekejap mata aku sudah bisa memvonis perasaanku. Kalau itu adalah perasaan cinta. Aku laksana Zulaikha yang terpesona melihat ketampanan Yusuf. Semua perempuan yang melihatnya pasti akan terlena oleh ketampanannya. Pesona wajah yang dimiliki mampu memikat hati setiap wanita. Cahaya pria itu benar-benar mempesona. Dia dikaruniai kecerdasan dan kefasihan, bahkan kemampuan yang mengagumkan. Lengkaplah sudah kesempurnaan dan kemuliaan yang dimiliki. Walau perjumpaanku dengan dia hanya sekejap, namun sudah cukup untuk memenuhi seluruh rongga jiwaku.
Pemuda yang menjadi buah bibir dan penghias mimpiku itu bernama Hari, dia termasuk adik kelasku yang bukan pria sombong, itu kesimpulanku. Sejak pertama kali melihat pancaran keindahan wajahnya, hatiku bergetar. Aku seperti melihat sambaran halilintar yang begitu menyedot segenap perhatianku. Aku tak pernah melihat keindahan di bumi ini seperti keindahan paras Hari. Aku benar-benar telah jatuh hati pada pria itu. Gejolak perasaan cinta dalam hatiku membuatku kehilangan akal sehat. Cinta itu telah mampu menggelapkan nuraniku, memenjarakan jiwaku hingga aku lupa makan dan belajar. Saat itu pelajaran sudah tak penting lagi bagiku.
Padahal baru 3 jam bertemu, tapi perasaan cinta sudah mulai berakar, aku telah dimabuk oleh pesonanya. Saat bertemu mulutku serasa kaku dan tak dapat dibuka, padahal berjuta kata ingin keluar, tapi aku tak mampu bergerak.
Setiap detik tiada yang terlintas di anganku, kecuali mata indah milik Hari. Dari waktu ke waktu, panah cinta dan pesonanya telah merejam dalam hati dan jantungku. Saat itu memang hanya cintanya yang memenuhi perasaanku.
Aku masih ingat obrolan Zahra yang tadi siang.
“itulah yang namanya Cinta, meski hanya sedetik kita sudah mampu tersenyum,” ungkap Zahra sok tahu meski itu benar.
Pria itu sudah memberi kesan yang mendalam buatku. Aku merasa pria itu telah memberiku pesona hipnotis, hingga aku seperti ini.
Jum’at pagi kuambil Handphone kesayanganku, sambil menghafal nomor ponsel pria itu. Ibuku terpaku heran melihat perubahan drastis pada diriku. Tumben-tumbennya ketika mataku baru terbuka malah mengambil Handphone.
“Hi…How r U?” Sengaja kukirim pesan itu dengan bahasa asing, karena dia termasuk anak yang fasih dalam bahasa inggris. Selang 6 jam SMS balasan datang.
“I’m so sorry for late to reply your message, b’cuz any problem with my handphone. So… we can’t share in this time.” Begitulah SMS yang kuterima.
Hari itu juga kucoba untuk menghubunginya. Kami berbicara dari hati ke hati. kuungkapkan perasaan yang telah jadi benalu dalam pikiranku.
“Dek,,,kalau ada kakak kelas yang naksir sama Adek, gemana?” kalimat dadakan yang tak sempat terprogram sebelumnya terlontar dari mulutku. Sesaat terdengar nafas panjang darinya.
“Siapa kakak kelas itu?”
“Saya,” jawabku lantang.
“Secepat itukah kakak mencintai saya? Pertemuan kita hanya sekejap, bahkan kurang dari 1 hari kakak mengenal saya. Apakah secepat itu?”
“Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini, belum genap 1 hari aku mengenalmu. Aku telah berani menyebut itu cinta. Aku tahu ini bukan hal yang wajar, namun aku tak tahu harus bagaimana mengelabuhi perasaan ini”
Detik berganti menit, menit berganti jam dan begitu seterusnya, hingga aku mendapat SMS darinya.
“Assalamualaikum, keccantikan bukanlah hal yang utama bagi saya, akan tetapi jika orang itu siap untuk menemani tauhid saya dan siap untuk menemani saya menuju jannah Illahi. Itulah yang saya mau. Bersediakah Ukhti untuk itu?”
Hmmm, rasanya kurang berkesan mengungkapkan perasaan lewat pesan di ponsel. Kutekan nomor ponselnya, lalu kupanggil. Kami berbicara dari hati ke hati.
“Apa maksud pesan yang tadi?”
“pesan itu adalah ungkapan cinta untuk Ukhti. Memang beginilah saya kalau sedang mengungkapkan cinta. Percayalah kata-kata saya telah dijaga oleh Asma Allah.
Tampak jelas nuansa dan nafas religiusnya semakin mendarah daging dalam dirinya. Rasanya aku tak ingin menutup ponsel itu.
“Ya, saya bersedia,” ucapku lirih.
Aku selalu terbayang oleh wajahnya yang senantiasa menghiasi pelupuk mataku. Aku selalu teringat dengan nafas religiusnya. Bagiku dia telah memberikan cinta suci, dia adalah segalanya. Karena benih cinta yang dia tanam telah berakar dan bersemayam dalam hatiku. Tapi belum genap 1 bulan aku bersamanya, perpisahan datang menghantam kami.
“Ummi telah pulang umrah, saya mau dipindah dari sekolah ini,” mendengar kata-kata itu seketika harapan dan kebahagiaanku mulai pudar. Cinta dan mimpi indah yang kupupuk selama ini luluh lantak tak tersisa. Aku berusaha untuk memahami perasaan yang sedang berkecamuk dalam hatinya, sambil berharap perjalanan waktu akan memberiku kebahagiaan.
Dera bimbang dan keraguan nyaris menutup kemuliaan hatiku.
Ya Tuhan selamatkan aku, keluarkan aku dari kemelut hati ini. Tatapanku mulai membasah, aku berusaha untuk tidak menangis. Tungkai kakiku seolah tak dapat berjalan lagi, aku benar-benar tak sanggup untuk menopang penderitaan ini.
“Halo… halo… denger aku nggak?” dia sangat terkejut mendengar isakan tangisku.
“Ini hal serius, ini masalah hati. Bisa meluangkan waktu berbicara denganmu saja, aku sudah bahagia.
“iya…iya… sudah ah nggak usah nangis! Cengeng, kayak anak kecil aja. Cup…cup…cup”
Dengan segenap kemampuanku, aku mencoba untuk menguatkan sukmaku dan selalu berusaha untuk menyembunyikan kepedihan hati. Saat itu aku dan dia memang telah saling mencinta. Aku dan dia bagaikan pasangan kasmaran yang tak kan pernah sudi untuk dipisahkan.
Seminggu setelah perencanaan itu, dia resmi pindah. Air mata yang bening menitis karena merindukannya yang jauh dari gapaian tangan.
“Ya Tuhan,,, Engkau adalah Ilham, hilangkan semua kepedihan dan kerinduanku padanya. Karena bagiku merindukannya adalah suatu penderitaan bathin. Walau membayangkan wajahnya itu adalah kebahagiaan, namun kebahagiaan itu belum mampu mengusir rasa gundah gulana yang bersemayam di hati. Jika kerinduanku telah memuncak, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Berpisah dengannya membuatku tak dapat berfikir jernih. Semakin hari jiwaku semakin menderita, kuberharap ada orang yang dapat membantu mencarikan penawar untuk diriku. Tetapi harapan itu sia-sia. Senyum dan teguran dari teman-temanku tidak mampu menyembuhkan sakit hati karena merindu. Dadaku terasa sesak. Pikiranku menjadi kalut. Jiwaku benar-benar telah merindu pada sosok pria religius itu. Semakin lama isak tangisku mulai menjadi. Ratapan pilu dan rintihan jiwaku telah memanggilnya, namun adakah dia yang kurindu mendengarku?
Kini pujaan hatiku telah pergi. Penakluk hati telah hilang, aku tak sanggup hidup sendiri tanpanya. Cintanya telah ada di hati dan tubuhku dan mengalir bersama deru nafas dan aliran darahku. Air mataku sudah tak berguna lagi, dunia seras lenyap. Kesedihan telah berhasil memakan hati dan jantungku. Otakku tak mampu lagi menahan derita jiwa karena cinta yang merindu.
Saat mengingatnya, air mata mengalir di pipi bagai butiran mutiara, teringat pada kata-katanya yang sehangat udara di musim panas dan seperti embun di pagi hari yang semakin sejuk dalam relung bathinku. Bagiku tiada suara yang lebih merdu dari suaranya. Getar suara yang dimiliki mampu meremukkan tulang belulang dalam tubuhku.
Harmoni dan nada cinta darinya memang telah membelenggu jiwa dan fikiranku. Hingga aku hanya bisa memikirkan diri sendiri. Pada kerinduan yang memuncak, keresahan demi keresahan membawaku pada praduga yang negatif. Keresahanku berakhir ketika ada getaran dari ponselku, ternyata ada panggilan darinya. Kujawab panggilan itu dengan isak tangis yang tak terarah.
Hari,,, ya memang hari. Pria yang membuat pikiranku berlabuh pada gelombang cinta dengan memendam rindu yang begitu kuat.
Hari,,, pria religius yang pernah kutemui di singgasana ini. Dia begitu setia dengan janji cinta yang telah dia ikrarkan. Begitupun aku, cintaku padanya telah tersimpan dalam nadi dan mengalir bersama darahku. Ini adalah takdir kita, di mana kita harus berpisah dan kita tak perlu menyesali keadaan yang tak bisa untuk kita pulihkan” ucapku lirih.
Hari, belahan jiwaku… dengan hadirmu telah mampu menutup cinta yang lain. Aku berjanji akan selalu memberikan padanya jiwa yang tulus dengan hati yang ikhlas juga kehidupan dan nafasku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: