Cyber Apitaik

AWALKU MENGAGUMI SANG ADAM

Tak ada asap jika tak ada api. Semua ada awalnya.Cahaya matahari pada pukul 07.00 pagi yang hangat menyentuh wajah. Apel perdana di sekolahku mulai berlangsung. Sekurang-kurangnya sepuluh atau lima belas orang laki-laki atau perempuan berdiri dalam satu deretan panjang dan berhenti ujungnya di depan sebuah garis. Yang berdiri paling depan pojok kanan dalam deretan itu adalah seorang laki-laki yang seumuran denganku, berperawakan sederhana dan berkulit putih. Hhmmm… di mataku laki-laki itu begitu sempurna, lakunya yang menyenangkan hati dan kelihatannya dia adalah sosok laki-laki yang typical pendiam, tapi aku tak tahu apa sebab dia diam, atau mungkin dia sudah tahu dalam hal dan situasi yang seperti itu dia tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi ngobrol dan semacamnya.
Keesokan harinya, ketika kegiatan belajar mengajar di kelas mulai berlangsung, di tengah-tengah perbincangan terdengar suara orang mengetuk pintu. Akhirnya muncul juga seorang laki-laki yang separuh baya, berkacamata dan memakai seragam lengkap dengan tanda pangkat kepegawaian terpampang di bahunya.
“Assalamualaikum, maaf mengganggu, minta waktunya sebentar Pak!” kelar Pak Tomi, seorang guru BK di sekolahku.
Menyusullah kemudian orang kedua setelah Pak Tomi, dia adalah laki-laki yang kulihat waktu apel perdana kemarin. Kehadirannya mengundang sejuta tanya.
“Loo… bukannya ini anak yang kemarin kulihat waktu apel perdana?” bisikku dalam hati.
“Ya benar! Itu dia, aku masih ingat lesung pipinya,” tegasku kembali.
“Sekarang dia akan menjadi teman sekelas kalian,” ujar Pak Tomi.
“Ayo perkenalkan diri dulu!”
“Saya David Yosi, panggil saja Yosi, saya adalah pindahan dari kelas sebelah,” sepenggal kata-kata perkenalan dari Yosi.
Kuangkat jemari tanganku sambil melontarkan pertanyaan konyol padanya.
“Alamatnya?” tanyaku ingin tahu.
“Yeee! Rupanya ada yang pura-pura cari perhatian nih!” sahut Tina teman sekelasku.
“Jalan Harapan Jaya, Nomor 19 Klaten Timur,” jawab Yosi.
“Sama dong,” selaku
“Tu kan, bilang aja CPCP, huuu!” sorak teman sekelasku.
“Udah nggak usah ribut!”
“Yosi sekarang kamu duduk di pojok belakang bersama Rudi,”suruh Pak Tomi.
Yosi bergegas pergi ke bangku pojok belakang. Setelah duduk di bangkunya, sekejap kutatap wajahnya. Dia memang laki-laki yang tampan, maka tak heran dari awal berjumpa tercurah sedikit perhatian. Dia memandangku tajam. Urat-urat di wajahnya tampak berseri, sesaat aku tersenyum padanya, dia kelihatan lebih manis, karena membalas senyumku dengan lontaran senyum manis yang tersekat, tetapi dia tetap membisu.
Anehnya segenap perhatianku tercurah untuknya. Tambah lama kulihat dia, perasaanku makin tak karuan. Ada semacam perasaan mengganjal yang menggelut dalam hatiku, hingga aku menjerit karenanya. Dan itulah pula sebabnya aku tak bisa membuka mulutku sesaat ketika sedang berhadapan dengannya.
Dua tiga hari telah berlalu, perasaanku makin tak menentu, segenap perhatian kini kutujukan pada siswa baru di kelasku.
Awalnya kuminta nomor HP-nya lewat Rudi, teman duduknya, lalu mengirim pesan tanpa kusebut identitasku.
“Hei… gimana dengan kelas barumu Yos?”
Namun pesan itu tak kunjung ada balasan. Sebenarnya aku sangat was-was kalau teman-teman mengetahui hal itu. Entah ejekan apa yang akan mereka lakukan jika mereka tahu.
Hari itu secara tak sengaja aku bertemu, ketika aku sedang asyik membaca novel di perpustakaan sekolah. Entah kenapa kali itu begitu melihat Yosi, aku tertarik untuk lewat di depannya.
“Hai Yos! bagaimana dengan kelas barumu?” tegurku sambil berlalu begitu saja melewatinya.
Dia sedikit kaget, kayaknya dia ingat kalau tadi malam dia menerima pesan yang persis dengan kata-kata teguranku.
“Yup, tak salah lagi menempati kelas itu,” sambungnya.
Aku mengakui dalam hati, dia memang menarik walau di pandang dari belakang. Memang sulit aku katakan posisi perasaanku saat itu. Entah perasaan apa namanya. Cintakah? Atau semacamnya aku tidak tahu.
Bel tanda masuk kelas telah berbunyi, keluar dari ruang perpustakaan aku bertemu lagi dengannya, kali itu aku memberanikan diri untuk menegurnya.
“Barengan yuk!” ajakku.
Seketika dia termangu memandangiku, ada sedikit rasa malu dan bahagia. Matanya yang berbinar-binar sambil mengangkat bahu dan menganggukkan kepala, tanpa mengucap sepatah katapun. Tetapi aku bisa baca dari tatapan mata yang penuh makna, kalau tawaranku diterima.Tiba di depan kelas, selama beberapa jenak aku dan dia bersitatap kembali, kemudian dia membalikkan badan dan masuk kelas.
Sebenarnya waktu itu tak ada sedikitpun keinginanku untuk merasakan hal itu. Namun kenapa dengan hadirnya siswa baru di kelasku, aku ingin merasakan sesuatu yang belum pernah singgah dalam bathinku. Saat itu memori otakku full dengan studi. Dengan kening yang mengerut ditambah lagi dengan sejumlah pertanyaan dan keinginan untuk lebih mengenalnya jadi tambah jebol memori otakku.
Suasana hatiku terasa galuh dan tak karuan, karena memang perasaan itu benar-benar asing dan hal itu tak pernah ada sebelumnya. Sorot mata yang begitu tajam dan senyum yang begitu menggoda membuatku tak ingin jauh darinya. Aku heran, kenapa aku bisa seperti itu, aku tak tahu apakah lantaran sorot mata yang tajam itu membuatku seperti ini. Entahlah!
Di rumah aku jadi sering melamun, menerawang jauh memikirkan perasaan itu. Kenapa bayangannya begitu jelas, seperti dia benar-benar ada di depanku.
“Ah! Lagi-lagi dia,” gumamku.
“Jangan-jangan benar kalau ini perasan cinta, hmmm perasaan konyol.
Pikiranku kalut, aku jadi kembali melamun, dan tersadar ketika ada SMS darinya. Ku tatap lagi HP Nexian kesayanganku, ternyata tak salah lagi, itu benar SMS darinya. Dengan membaca SMS itu aku makin tenggelam dalam kegilaan cinta, hatiku meleset bak meteor, berubah 360 derajat. Aku tak bisa berpikir panjang lagi, aku yakin itu adalah perasaan cinta. Aku merasakan betul hal itu. Perasaan itu seakan dibuat-buat, itu benar-benar perasaan yang bombastis, sehingga aku hampir salah langkah karena cinta yang berlebihan.
Dengan hadirnya siswa baru di kelasku, dia tidak sedikit mengundang simpatiku. Semangat cinta yang menggelora dan getar hati yang membara tumbuh menjadi satu.
Mungkin sejuta sebab tumpulnya hatiku karena terbuai dalam cinta. Tak dapat dipungkiri hal itu. Aku benar-benar terjebak dengan perasaan itu, terperangkap dalam dunia cinta yang tak pernah aku duga sebelumnya. Memang jelas dalam kekuatan bathinku terasa ada sifat ingin tahu tentang cinta yang lebih dalam.
Tiga bulan kemudian, aku menerima sepucuk surat dari Rudi, teman duduk Yosi. Surat itu dibungkus dengan amplop berwarna biru.
“Eh surat ini untuk siapa Di, kok ngasi aku?” tanyaku.
“Ya untukmu!” kelar Rudi.
“Emang surat ini dari siapa?” seruku.
“Udahlah, sekarang kamu buka aja! nggak usah cerewet. Nanti juga kamu bakal tau sendiri.”
Dengan hati yang berbunga-bunga, kubuka surat itu perlahan, berharap surat itu dari Yosi, pria yang selama ini jadi raja dalam hatiku. Do’aku terkabul, ternyata benar surat itu dari Yosi.
Arin…
Di antara semilir angin sepoi kutulis surat untukmu
Kuhindari kebisingan agar pikiran dan konsentrasiku tak buyar
Akhir Februari kemarin, kembali ingin kusapa senyum ramahmu
Ada hal lain yang menambah sejumlah pertanyaan di kepalaku
Itu tak lain tentang sikapmu selama ini
Kutatap hampa di sekelilingku
Sembari mencari wujud dari rasa yang kupunya
Tapi entahlah!
Yang jelas ku tak tahu harus menggores apa dalam kertas ini
Apakah hanya perasaanku saja, atau mungkin ada benarnya?
Aku takut kalau ini adalah perasaan cinta
Ucapannya dalam surat itu sungguh mengundang nilai tinggi. Kedua tanganku yang memegang surat itu bergemetar dan terasa agak berbeda, sejenak aku terdiam. Dengan suara desah dalam hati kuulangi untuk membaca surat itu, yang paling menekan dalam surat itu dalam bait terakhir yaitu kata cinta.
Tiap kali kulihat dan kubaca surat itu, semangat yang menjadi-jadi mulai menyapa. Bagiku surat itu adalah surat cinta yang pertama.
Seminggu setelah kuterima surat itu, kuputuskan untuk menulis surat balasan pada secarik kertas mungil. Aku tak tahu harus menggores apa, namun kali itu aku gengsi untuk mengungkapkan perasaan yang mengganjal itu.
“Trim’s.”
Begitulah kata yang kugores dengan pena terhebatku, sebagai balasan surat untuknya. Lalu kubungkus surat itu dengan amplop berwarna jingga.
“Ada baiknya jika surat ini aku titip lewat Rudi,” kelarku.
Semenjak aku memberikan surat itu, dia tidak pernah menegurku lagi. Dia hanya bisa berpaling dan membuang muka ketika bertemu denganku.
Aku tak tahu kenapa dia bisa seperti itu. Apa mungkin karena surat yang hanya satu kata itu? Atau mungkin ada yang lain. Rasa sesal, malu dan sungkan berbaur menjadi satu. Bahkan malam harinya aku susah tidur. Aku merasa terombang-ambing dan terus mencari jawaban kenapa dia bisa bersikap tak sewajarnya terhadapku.
Tadi siang semangat dan rindu yang telah tertidur, bangkit kembali, setelah merasakan getaran SMS dari ponsel yang ada di mejaku.
“Jalan yuk!”
SMS dari Yosi kubuka.
Kubuka SMS itu masih dengan nada tak percaya. Lalu kubalas.
“Kapan, di mana?”
Semenit kemudian SMS balasan datang.
“Sekarang, di tempat biasa. Taman Indah”
“Yosi!” sapaku.
“Waah, akhirnya ketemu juga,” jawabnya.
Sambil jalan beriringan mengelilingi taman, kami mengobrol tentang banyak hal, terutama tentang diri kami masing-masing.
Aku merasa seolah telah menemukan orang yang tepat, orang yang selama ini kucari. Perkenalanku dengan dia, sungguh hal yang tak dapat disangka, kalau itu akan membawa benih-benih cinta.
“Kenapa kamu acuh sewaktu menerima suratku kemarin? ada yang salah?” tanyaku di tengah-tengah perbincangan.
“Sorry, sekedar menguji kesetiaanmu, ternyata kamu tegar juga ya! tak salah punya teman sepertimu,” goda Yosi.
Dari sanalah hubunganku kembali damai.
Hari itu dia mengajakku merencanakan liburan akhir pekan untuk minggu besok.
“Besok kita ke pantai ya! Ada yang mau kukasi tahu.”
“Apa? jadi penasaran nih!” timpalku.
“Makanya besok harus ke sana. Oke! Kutunggu,” selanya.
Hari minggu telah tiba, pemandangan sebelum matahari terbit dan belum keluar dari tempat persembunyiannya, sungguh mengagumkan. Langit gelap perlahan-lahan beralih berwarna kemerahan menjadi benderang. Pada pukul 08.00 matahari sudah menyengat, kami sarapan dengan sepotong roti yang kami beli di pantai.
Di tepi pantai dengan mata telanjang sesekali tampak jelas dasar laut itu indah, terlihat terumbu-terumbu karang berwarna putih keabuan.
“Memang indah,” ucapku.
Terasa indah saat itu, apalagi waktu itu aku bersamanya.
Dia memandangkku, lalu, memberitahu kalau dia akan melanjutkan studinya ke luar kota. Tak ayal kata-kata itu membuat hatiku terasa gundah. Langit di atasku seakan runtuh, dan seolah aku tak berpijak di bumi lagi. Saat itu rasa takutku kehilangannya memang telah ada. Aku memohon padanya untuk mengurungkan niatnya. Tapi di lain sisi, aku tahu kalau aku tak memiliki hak untuk melarangnya. Pukul 09.00 kami pulang. Sesampai di rumah dia menelfonku, yang dia dengar hanyalah tangis sesakku.
Malamnya tak ada yang istimewa di antara kesedihan-kesedihanku. Kecuali perhatianku pada suatu kata yang cukup menyedot seluruh isi jiwaku. Sakit sekali!
Singkat cerita hari pelulusan tiba. Alhamdulillah! Aku dan teman-teman yang lain lulus. Harapanku untuk tetap bersamanya semakin redup. Bathinku terasa teriris saat kutahu dia akan meninggalkanku. Kepergiannya saat itu sempat membuatku down, melakukan aktifitas sehari-haripun rasanya malas.
Satu bulan kemudian aku mulai memasuki sekolah baruku. Diapun begitu. Setiap hari sepulang sekolah aku berusaha menghubunginya lewat ponsel, tapi dia lebih sering menghindar. Namun dalam hati kecilku, aku yakin dia tak pernah menghindar dariku. Mungkin hanya saja dia sibuk dengan sekolah barunya, sehingga dia tak pernah mengangkat telpon dariku, apalagi membalas SMS-ku.
“Yah tak apalah!” ucapku untuk menenangkan diri.
Untuk menghilangkan rasa jenuhku, aku hanya bisa mengingat masa-masa dulu saat bersamanya dan membaca surat yang dia berikan.
Malam itu, setelah tiga bulan lamanya aku berpisah, tiba-tiba aku menjadi sangat rindu dan teramat sayang pada pria itu. Kerinduanku itu seperti seakan menyesakkan dada. Masih terngiang senyumnya di mataku, tangisku terisak tanpa ujung, seolah dibuat-buat olehku.
Rasa sedih karena kehilangannya belum reda. Lagi-lagi khabar duka kuterima. Dia menelponku, kemudian memberitahuku kalau dia sedang dirawat di Rumah Sakit. Pandanganku gelap. Tangisku pun meledak saat itu juga. Keringat dingin langsung menyeruak di sekujur leherku. Wajahku terasa tak berdarah.
“Ya Allah, belum cukupkah semua ini?”
Lama kumenangis, emosiku tak terkendali.
“Yosi… beberapa bulan kujumpai kamu masih sehat, tapi sekarang kenapa kamu seperti ini?”
Wajar aku sedih karena kehilanganmu, apalagi mendengarmu yang sedang terbaring lemah di Rumah Sakit.
Seminggu kemudian kudengar kabar kalau dia mulai siuman. Senyum ramah mulai kurajut. Aku menghirup napas, suasana hatiku terasa hening.
Yosi… perasaan ini tak akan pernah memudar, karena kaulah yang pertama mengisi kekosongan jiwaku. Kau yang pertama singgah dalam ruang bathinku. Rasa ini akan tetap utuh buatmu. Kutunggu kamu seperti sedia kala.

Marina Febri Yola

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: