Cyber Apitaik

IBN RUSYD 1126-1198 M

Ibn Rusyd adalah filosof, dokter, ahli fikih Andalusia. Bukunya yang terpenting dalam bidang kedokteran ialah al-kulliyat yang berisi kajian ilmiah pertama kali mengenai tugas jaringan-jaringan dalam kelopak mata. Dialah yang pertamakali menyimpulkan bahwa orang yang sudah terkena penyakit cacar tidak akan terkena lagi untuk kedua kalinya. Dalam buku itu di paparkan secara memadai dan ilmiah mengenai seluk beluk bedah dan ilmu anatomi. Buku ini telah diterjemahkan kedalam bahasa Latin. Sayangnya, Kemasyhurannya di Eropa tidak berjalan lama karena tersaingi oleh buku Ibn Sina, al-Qanun fi al thibb.

Buku terpentingnya dalam bidang fikih ialah Bidayah al-Mujtahid. Meskipun dia sangat hati-hati agar buku fikih dan filsafatnya tidak menyinggung orang lain, dengan mengemukakan pendapatnya dalam bentuk tidak langsung, mendapat serangan belum pernah diterima oleh pemikir sebelumnya. Dia dituduh kafir. Bukunyapun dibakar Orang menolak pendapatnya yang mengatakan bahwa alam ini qadim dan jasad ini tidak akan dibangkitkan begitu pula mereka menolak pendapatnya bahwa Allah swt.tidak mengetahui. juz’iyyat lebih banyak dibandingkan pengetahuan penguasa terhadap juz’iyyat orang-orang yang dipimpinya bagi kempentingan politiknya yang tinggi.

Kesuksesannya yang paling penting ialah dibidang filsafat. Dalam bidang ini paling tidak ada dua macam kesuksesan yang diraihnya: Syarah (penjelasan) ibn Rusyd terhadap karya Aristoteles, dan bakat aslinya.

Dia adalah pemberi syarah terbesar bagi filsafat Aristoteles. Dia berhasil membedakan antara filsafat inti dan pemikiran Neo Platonisme, pada saat para filosof Arab sebelumnya mencampuradukan antara keduanya, serta menisbatkan pendapat orang lain kepada Aristoteles. Ada tiga tingkatan syarah yang diberikan oleh Ibn Rusyd, yang sengaja dia tunjukkan kepada tiga kelompok pembacanya : para pemula, kelompok sedang, dan kelompok lanjut dalam mengkaji filsafat. Syarahnya untuk kelompok pemula dibuat berselang-seling dengan kutipan dari buku Aristoteles. Hal serupa pernah dilakukan oleh para ahli tafsir Al-Quran ketika menafsirkan ayat-ayatnya. Namun, saja dia tidak membuat syarah yang pendek. Dia terus-menerus mengemukakan pendapatnya hingga tampak bahwa buku tersebut lebih merupakan karangan Ibn Rusyd ,bukan sebagai syarah .Syarahnya yang terpenting atas buku Aristoteles ialah dalam bidang metafisika.

Meskipun Ibn Rusyd bukan orang Muslim pertama yang memberikan syarah untuk buku Aristoteles, dialah pensiyarah terbaik dan paling berpengaruh pada peradaban Eropa yang begitu cepat meninggalkan para pensyarah terdahulu dari bangsanya sendiri. Mereka juga mulai mengkaji buku-buku terjemahan Ibn Rusyd kedalam bahasa Ibrani dan bahasa Latin, sebelum mengkajinya dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Yunani. Bahkan ada diantara buku-buku Aristoteles yang asli hilang dan belum sampai ketengah para pemikir Eropa kecuali syarah yang diberikan oleh Ibn Rusyd atau para filosof Arab yang lain, atau melelui buku terjemahannya.

Averoisme (Kajian filsafat Aristoteles seperti yang telah dijelaskan oleh Ibn Rusyd) meluas ke seantero Eropa, dan menjadi kajian primadona di berbagai universitas di sana. Selain itu pemikirannya termasuk yang paling berpengaruh terhadap pemikiran Eropa hingga tiga abad setelah itu. bahkan pemikiranya salah satu menjadi tiang pancang bagi abad kebangkitan disana .Walaupun Thomas Aquinas menuduhnmya terlalu berlebihan dalam mengandalkan akal, Universitas Paris, memusuhinya Paus mengharamkan serta buku karangannya pada tahun 1231-kecuali setelah dibuang bagian yang bertentangan dengan ajaran gereja, kemenangan tetap berada di pihak Ibn Rusyd. karena sesungguhnya dia memiliki jasa yang luar biasa terhadap masa pencerahan Eropa pada abad ke 18; bahkan para guru filsafat Ibn Rusyd. Sebaliknya didunia Islam, kondisinya sangat bertolak belakang dengan kondisi di Eropa.

Dapat dikatakan bahwa syarah yang diberikan oleh Ibn Rusyd atas filsafat Aristoteles sangat sarat dengan pemikiran. Hal itu boleh jadi karena dalam bidang filsafat dan agama. Pendapat-pendapatnya di seputar masalah ini dituangkan dalam dua bukunya, Tahafut al-Tahafut, sebagai jawaban atas buku al-Ghazali (Tahafut al-Falasifah),dan Fashl al-Maqal fi ma bayn al-Syari’ah wa al-Hikmah min al-Ittishal; dua bukunya yang sangat penting. Keduanya telah terjemahkan kedalam bahasa Ibrani dan Latin. Dalam dua buku ini, Ibn Rusyd membela filsafat matian-matian atas tuduhan kekafiran. Dia tidak melihat bahwa inti dan hakikat filsafat ini bermacam-macam seperti yang dijelaskan oleh para nabi, walaupun-kadang sulit juga mengemukakan bukti-bukti filsofis atas sebagian yang telah disebutkan oleh agama. Seperti anggapan bahwa ruh itu kekal, atau pikiran tentang akhirat. Ibn Rusyd meyakinkan bahwa warisan pemikiran Yunani tidak ada yang bertentangan dengan Islam. Bahkan kemungkinan untuk menggabungkan kedua hal tersebut sangat besar. Dalam hal ini ia berkata: “Sesungguhnya hakikat (kebenaran ) itu hanya satu Manusialah yang menggambarkan bentuknya bermacam-macam “.

Dalam buku Fash al-maqal, dia berusaha membuktikan keberadaan Allah melalui hukum kausalitas, karena tidak ada sesuatu yang ada tanpa musabab. Semua sebab beraturan hingga sebab Pertama, yakni pembuat alam semesta. Atau sebab penciptaan yang selalu bergerak dan terus berganti secara tak diduga sebagai hasil perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Pemikiranya itu membentangkan jalan bagi teori pertumbuhan dan perkembangan, walaupun para fukaha Muslim mengatakan bahwa hal itu bertentangan dengan makna Alquran “…jadilah, maka jadilah dia“.

Bagaimanapun, khalifah Andalusia al-Manshur bin Abu Ya’qub telah memerintahkan untuk menghakimi Ibn Rusyd, mengucilkanya, dan membakar buku-bukunya yang ada di wilayah Andalusia dan Maroko atas usulan para ulama agama, selain sebagai jawaban atas “bencana” yang menimpa rakyat yang ditimbulkan oleh para filsofot dan filsafat. Oleh sebab itu, tidak ada bukunya yang sampai ketangan kita, yang menurut sebagian orang yang jumlahnya tidak kurang dari lima puluh eksemplar. Jumlah yang tidak sedikit. Dunia Timur pun menganggap enteng sebagian kecil bukunya yang tersisa hingga permulaan abad ke 20, ketika farch Anton (jurnalis Kristen ) mengingatkan umat Islam dengan pentingnya buku tersebut, yang menyebabkan terjadinya perdebatan sengit antara dia dengan Syaikh Muhammad Abduh; walaupun sebenarnya Muhamad Abduh banyak mengambil pemikiran dan filsafat Ibn Rusyd dalam hal prinsip kausalitas. Keterlenaan seperti ini berlangsung cukup lama. Dengan demikian, Ibn Rusyd menjadi bukti yang paling benar atas kemunduran pemikiran umat Islam selama delapan abad. Sebaliknya, merupakan sebuah hadiah yang secara tidak sengaja di berikan kepada peradaban Eropa, dalam kedudukanya sebagai pemikir yang paling banyak jasanya terhadap perkembangan pemikiran di sana.

One Response to “IBN RUSYD 1126-1198 M”

  1. […] Dialah yang pertamakali menyimpulkan bahwa orang yang sudah terkena penyakit cacar tidak…baca selengkapnya… 0.000000 0.000000 Rate this: Share this:FacebookTwitterPrintDiggLike this:LikeBe the first to […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: