Cyber Apitaik

ANTARA KEPENTINGAN KEBIASAAN

Tidak sedikit orang yang terkena akibat kebiasaan yang membahayakan, hendak merobahnya atau menghindarinya. Maka perlu kita mengetahui cara bagaimana sampai kearah itu. Pengertian kita bagaimana membentuk adat kebiasaan, menolong kita untuk mengetahui cara bagaimana kita akan menghindarinya. Untuk itu menghindarinya wajib kita lakukan sebalik apa yang menyebabkannya.

Untuk membentuk kebiasaan harus ada keinginan kepada sesuatu dan diterimanya keinginan, dan diulang-ulanginya keinginan dan penerimaan itu secukupnya. Untuk menghindarkan diri dari kebiasaan menolak keinginan bebuat, dan tiap-tiap munculnya keinginan harus tidak kita terima, maka kita dapat mematikan kebiasaan dengan jalan mengabaikan sebagaimana kita dapat menghidupkannya dengan menimbulkan keinginan dan menerimanya.

Ahli ilmu jiwa menetapkan bahwa fikiran itu tentu mendahului perbuatan, maka perbuatan berkehendak itu dapat dilakukan setelah difikirkannya. Apabila kita menghendaki melakukan kebiasaan atau menghindarinya, wajib melihat kepada dasarnya, yaitu fikiran.

Fikiran bila dikemukakan pada otak dan diterimanya dalam waktu yang lama, tentu memberi bekas sedalam-dalamnya, kemudian berobah menjadi perbuatan. Fikiran itu pertama dikemukakan pada otak, sedikit membekasinya, dan tiap-tiap diulang tambah besar bekasnya dan lalu membuahkan perbuatan, kemudian menjadi adat kebiasaan yang diulang-ulanginya. Terkadang fikiran itu pertama-tama menolak, akan tetapi karena bertubi-tubi datangnya kepada otak akhirnya, menerimanya dan melakukan menurut kemestiannya.

Kita telah memahami bahwa manusia itu hampir menjadi segolongan adat kebiasaan yang berjalan dipermukaan bumi, dan nilainya tergantung kepada kebiasaannya. Maka keadaan seorang dalam cara pakaian dan kebersihannya, gerak-geriknya dalam bercakap, berjalan, cara tidur dan makan, perhatiannya terhadap kebutuhan badan seperti olah raga dan mandi, perhatiannya terhadap akalnya mengenai pendidikan dan lain-lain sebagainya, semua itu adalah adat kebiasaan yang membatasi suksesnya dalam hidup.

Manusia bahagia atau sengsara sebab dari kebiasaan jujur atau berkhianat karena kebiasaan, berani atau takut karena kebiasaan, bahkan pada umumnya sehat badan atau sakit karena kebiasaan, karena kebanyakan penyakit dapat dijaga dengan membiasakan kebersihan, sederhana dalam makanan, dan sebagainya. Penyakit dapat didatangkan dengan membiasakan sebaliknya. Sebagian orang berkata: “Barang siapa sakit ia telah berdosa” karena dengan sakitnya menambah kesengsaraannya dan kesengsaraan orang yang dikanan kirinya. Akan tetapi perkataan itu tidak benar seutuhnya, karena ada penyakit yang mengenai manusia, sedang dia tidak mempunyai daya kekuatan untuk menolaknya.

Sebaik-baik jalan untuk menghindari kebiasaan buruk, ialah meninggalkannya sekaligus, sehingga ia terasa sakit dan menderita kesusahan dalam waktu yang terbatas, kemudian hilanglah kesusahaan itu dan ia merdeka dari penghambaan atas kebiasaan yang dilakukannya. Akan tetapi diisyaratkan jangan sampai seorang berniat melakukan sesuatu atau meninggalkan kebiasaaan kecuali bila ia mengetahui apa yang di dilakukannya dan mempunyai kekuasaan atas hal tersebut. Apabila ia berniat berbuat apa yang diljuar kekuasaannya tentu akan gagal, sedang dalam kegagalan ini membawa kepada melemahnya niat, sehingga tidak dapat melakukan perbuatan meskipun perbuatan itu mudah. Untuk melakukan perbuatan di luar kemampuannya, hendaklah dengan cara berangsur-angsur. Seperti contoh meminum whisky yang sudah mejadi kebiasaan yang sulit sekali untuk dirubah, pertama tama berniat untuk mengurangi meminumnya sedikit demi sedikit sesuai dengan kemampuannya, sehingga akhirnya kebiasaan buruk meminum whisky tersebut hilang dan tidak lagi meminumnya, bahkan membencinya.

Pada tahun-tahun pertama pembentukan adat kebiasaan, kita belum mempunyai fikiran yang benar, dan tidak mempunyai kekuatan untuk membedakan sesuatu dengan benar dan memilih yang baik untuk kita biasakan. Kalau telah sampai umur kita mengetahui cela-cela kita dan menyaksikan apa yang kita biasakan dari adat yang buruk, sukar bagi kita akan menghindarinya karena telah kokohnya kebiasaan itu. Sebut saja contoh kebiasaaan merokok dan minum whisky, satu dari keduanya tidak menarik. Bahkan hati kita tidak suka kepada keduanya. Karena rasa yang pahit dan bahayanya. Akan tetapi keduanya dihadapkan kepada orang dikala masih kanak-kanak dan mudanya. Dia melihat orang yang dikanan kirinya minum rokok dan minum whisky sedang ia tidak suka meniru mereka. Karena ia menyangka bahwa yang demikian itu menambahkan derajatnya pada mereka, sehingga ia berbuat seperti apa yang mereka perbuat. Kalau ia belum membiasakan keduanya sehingga tumbuh akalnya dan telah matang kekuatan memberi hukum kepada sesuatu, tentu tidak akan membiasakan keduanya. Dengan ini kita mengetahui apa yang berguna bagi manusia sebesar-besarnya biar ia mendapat ahli pendidik yang baik, sedang bahaya akan menimpanya bila ia mendapat pendidik yang buruk.

Sumber :
Etika (Ilmu Akhlak) : Prof. dr. Ahmad Amin : 28-34

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: