Cyber Apitaik

AGAMA DAN HUKUM AKAL

Semenjak dunia berkembang dan manusia hidup di atasnya, persoalan tentang kepercayaan kepada Tuhan telah menggoda manusia lalu ada manusia yang mempercayainya dan ada pula mengingkarinya. Yang jelas bahwa persoalan tentang Tuhan tidak bisa lepas dari pemikiran manusia. Pada masa manusia mencapai kemajuan yang pesat, pemikiran tentang Tuhan semakin berkembang pula, di samping banyak pula yang mengingkarinya dan membuat mereka sombong.
Seorang Ahli bernama Mr. A. Cressy Morrison, Presiden Direktur New Work Academy of Science telah mengemukakan tujuh dalil tentang alasan ilmuan percaya kepada Tuhan:
1. Hukum matematika, menjelaskan atau menunjukkan bahwa alam semesta didesain dan dioperasikan oleh intelegensia teknik yang luar biasa.
2. Kesempurnaan kehidupan di dalam melengkapi tujuan-tujuannya merupakan suatu manifestasi dari segala bentuk intelegensia yang tinggi.
3. Instink yang diperlengkapkan kepada binatang membentangkan kesempurnaan sang pencipta.
4. Manusia ternyata memiliki sesuatu yang melebihi naluri binatang yakni kekuatan bernalar.
5. Provisi bagi semua kehidupan terungkapkan dalam fenomena genesis kromosom-kromosom.
6. Melihat kondisi ekonomi alam ini, kita harus menyadari bahwa hanyalah suatu kebijakan yang luar biasa yang dapat meramalkan dan mempersiapkan alam kehidupan pertanian dengan cermatnya. Contoh suatu kasus sejenis kaktus di Australia tumbuh liar karena tidak ada serangga yang menyerangnya. Akhirnya ditemukan suatu jenis insekta yang menyebabkan pertumbuhan kaktus menurun, yang mengembangkan antara kaktus dan serangga.
7. Kenyataan bahwa manusia tak dapat melepaskan dirinya dari pemikiran ketuhanan adalah suatu bukti yang luar biasa.

Manusia dengan kekuatan akalnya, selidik ilmiahnya,dan rasa keingintahu akan segala sesuatu akan dapat mengantar manusia sampai kepada Tuhan. Perkembangan manusia dalam sejarah tidak banyak menunjukkan bahwa manusia bisa mencapai Tuhan. Persoalannya adalah terletak pada siapa Tuhan itu? Dalam hal ini manusia berbeda-beda. Selanjutnya dapat dipertanyakan tentang otoritas untuk menjelaskan siapa Tuhan itu, sudah barang tentu bukan manusia tetapi Tuhan sendiri. Tuhan sendirilah yang berwenang untuk menjelaskan siapa dirinya.

Tuhan menjelaskan dirinya dengan menunjuk dan mengangkat nabi-nabi dan rasul di antara manusia. Tuhan menjelaskan dirinya lewat wahyu yang dibawakan oleh para nabi dan rasulnya. Kesemuanya itu untuk menjelaskan tentang kebenaran Tuhan dan mengakhiri perbedaan kepercayaan manusia yang berbagai macam, seperti Tuhan dengan namanya yang berbeda pula. Melalui lisan para nabi dan rasulnya dapatlah diperoleh tentang kebenaran Tuhan yaitu Allah Yang Maha Esa. Tengoklah monotheisme di dalam umat manusia, Tuhan Allah Yang Maha Esa (Tauhid).

Allah SWT telah menganugerahkan kepada manusia barbagai macam petunjuknya. Allah telah memberikan manusia petunjuk berupa hidayatul ilham (petunjuk ilham) dan disusul dengan petunjuk inderawi (hidayatul hawwas). Di samping itu manusia masih di beri kemuliaan dari Allah dengan fasilitas petunjuk akal ini disempurnakan pula dengan petunjuk agama (hidayatul adyan). Dengan hidayatul adyan ini manusia akan memperoleh taufiq (hidayatul taufiq).

Manusia di bawah petunjuk Ilahi dapat memperkembangkan hidup dan kehidupannya. Kehausannya terhadap bimbingan agama akan terobati. Ia dapat menumbuhkan hidupnya di berbagai bidang kehidupan seperti sosial, hukum, ekonomi, politik, budaya, ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK). Dengan petunjuk agama manusia dapat menentukan pilihan-pilihan dan mengambil sikap dan perbuatan yang terbaik untuk hidupnya. Manusia dalam hidupnya membutuhkan berbagai macam kebutuhan yang harus dipenuhi. Ia membutuhkan kecerdasan dengan sarana ilmu pengetahuan. Dorongan hatinya kepada hal-hal yang indah dapat dipenuhi dengan seni. Keingin tahu manusia tentang kehidupan dan segala apa yang terpendam di dalamnya, dapat diaduk dengan agama yang mengungkapkan teka-teki hidup dan akhir kesudahannya. Agama telah mengungkapkan tata cara hidup yang lengkap justru bukan saja hidup di dunia, tetapi bahkan juga di akhirat.

Agama telah memenuhi kebutuhan Fithri dan emosional dari manusia. Agama telah menunjukkan sebagai kebutuhan satu-satunya dari manusia yang mengarahkan kepada tujuan agung. Demikian pula agama telah mengisi dahaga rohani manusia seperti keinginan untuk memperoleh kebahagiaan dan kegembiraan. Ia dapat menunjukkan keagungan manusia dan menjadi penawar bagi tekanan jiwanya.
Manusia mempunyai fitrah kebenaran yaitu keimanan kepada Tuhan. Panca indra manusia selalu berusaha mencari kebenaran sedang akal manusia itu menguji kebenaran. Untuk itu akal manusia berfikir keras untuk melihat, membaca tanda-tanda yang tergelar di dalam alam semesta. Alam semesta merupakan ayat-ayat kauniah dari Allah (QS. At-thin 95). Ia merupakan tanda-tanda bukti (burhan) tentang ada dan wujud Allah.

Akal manusia menghasilkan ilmu pengetahuan dan pengaplikasiannya yang berupa teknologi. Dengan IPTEK yang dihasilkan oleh akal manusia, ia dapat meningkatkan taraf hidupnya dan mewujudkan peradaban manusia yang tinggi.

Ilmu pengetahuan dan teknologi berguna bagi manusia untuk mengenal Allah, mengenal Nabinya dan mengenal Islam. Menurut hukum akal, segala wujud itu ada sebab musabab dan ada yang menjadikannya. Wajib pada akal adalah segala sesuatu yang tidak patut kalau tidak ada. Mustahil pada akal adalah segala sesuatu yang tidak patut kalau ada atau terjadi. Sementara jaiz atau mungkin pada akal adalah segala sesuatu yang patut ada atau terjadi (baru) dan patut pula tidak ada atau tidak terjadi.

Hukum akal yang dalam hubungannya dengan pembahasan agama adalah untuk memantapkan keyakinan atau aqidah dan Islam secara keseluruhan. Sedang dalam masalah aqidah dan Ibadah, akal tidak bisa dijadikan sebagai dalil atau alasan. Akal dan hasil kerja akal hanyalah diterapkan di dalam masalah-masalah mu’amalah. Kebenaran yang dikandung oleh agama bermuara pada wahyu yang kebenarannya mutlak yang berupa nash-nash al-Qur’an dan as-Sunah.

Kegiatan akal yang berupa proses berfikir akan menghasilkan sesuatu yang bersifat ijtihadiyah. Hal-hal yang bersifat ijtihadiyah nilai hukumannya adalah Dhanni. Hukum yang bersifat Dhanni tidak bisa dipergunakan untuk menopang kebenaran agama, terutama bidang akidah dan ibadah yang sifatnya asasi. Posisi akal bersifat melengkapi terhadap sumber-sumber agama di dalam menentukan kebenaran agama. Akal tidak boleh mengganti (substitusi) terhadap sumber-sumber agama yang bersifat nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Kebenaran dari ajaran agama menghendaki landasan yang pasti (Qath’i) yang berasal dari wahyu dalam agama tidak dapat digantungkan atau mengandalkan penalaran dengan akal atau pada seseorang (Taqlid). Fungsi akal adalah menalar dan memahami serta mengetahui dan menggali nilai-nilai yang terkandung di dalam sumber-sumber agama (al-Qur’an dan as-Sunnah) untuk mendapatkan petunjuk yang benar. Maka hal-hal yang sudah muhkamat (pasti) tidak memerlukan penalaran lagi. Tetapi ia langsung dilaksanakan atau diamalkan sesuai dengan petunjuk Rasul-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: